Tampilkan postingan dengan label Belajar Berdiskusi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Berdiskusi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juli 2012

Wayang Golek Langkung


Mpu Palman, sebuah komunitas musik dari kota ukir Jepara yang mengusung alat musik dari bilah bambu baru-baru ini membuat inovasi yang cukup menarik. Setelah eksistensinya selama kurang lebih 9 tahun terhitung dari sekitar tahun 2003 berdirinya komunitas ini, mereka mencoba menghidupkan kembali "gairah" berkeseniannya dengan mengangkat tema garapan wayang. Mereka menyebutnya Wayang Golek Langkung. Dengan badan yang terbuat dari bambu dan kepala yang terbuat dari bathok (tempurung kelapa). Nama Wayang Golek Langkung mempunyai filosofis yang cukup mendalam. Selain memang diambil dari bentuknya  yang seperti Wayang Golek, kata Golek juga berarti dalam bahasa Jawanya yaitu golek atau dalam bahasa Indonesia yaitu mencari. Sedangkan kata Langkung yang dalam bahasa Jawa berarti luwih/kaluwihan atau dalam bahasa Indonesia yaitu lebih/kelebihan. Sehingga nama Wayang Golek Langkung bisa diartikan mencari kelebihan. Mencari kelebihan yang dimaksud adalah mencari kelebihan di dunia.

Lebih pintar, lebih berguna bagi masyarakat luas, juga lebih siap menghadapi hidup setelah kehidupan (kematian), berharap menjadi insan yang tidak tergolong orang yang merugi. Sesuai komitmen
anggota sendiri yang memang sepakat bahwa mencari ilmu
atau belajar itu dari jabang bayi abang nganti tumekaning akhir (dari lahir sampai meninggal). Cerita yang diangkat dalam penggarapan wayang juga tak jauh dari tema-tema sosial budaya, kesenian, dan masyarakat sekitar. Mpu Palman sendiri selama ini lebih dikenal dengan garapan musik macapat gagrak pesisiran yang berbeda dengan model Surakarta, Yogyakarta, bahkan Semarang. Perbedaan yang sangat menyolok yaitu pada tempo lagu. Kalau macapat biasanya bertempokan lambat dan halus, maka di tangan Mpu Palman macapat menjadi bertempo lebih cepat dan bersemangat sesuai kondisi masyarakat pesisir.
Ada 10 anggota yang sekarang berproses di komunitas Mpu Palman. Antara lain Kustam Ekajalu, N. H. Tauchid, Albert Hermanto, Furi Dalam Hujan, Ihwan Arfianto, Solikul Muhammad, Yudi Yusmansyah, Erma Khikmatul Laili, Eris J. Azhari dan seorang konseptor sekaligus pendiri dan pembina Mpu Palman Ramatyan Sarjono, yang tetap setia menjaga keutuhan Mpu Palman dari generasi ke-1 hingga generasi ke-3 (sekarang). Karena memang Mpu Palman sendiri telah berganti anggota beberapa kali.
Mereka berharap bahwa Wayang Golek Langkung akan menjadi alternatif atas "lesunya" proses kesenian di Jepara pada khususnya. Sehingga para pekerja seni lebih tergugah kembali menghidupkan "gairah" berkesenian di Jepara.




Minggu, 08 April 2012

Belajar Berealis

Sebenarnya ini lanjutan pembahasan tentang "menjadi diri sendiri", kebetulan kawan lama pulang kampung ke Jepara, yang memang dia menggali ilmunya konsen di kota Jogja, kesempatan besar untuk berdiskusi.
Tempo hari sempat saya menulis tentang bagaimana ketika kita sebagai pelaku seni peran dihadapkan pada masalah ketidakmampuan mencapai sukma tokoh dalam karakter, sehingga yang terjadi adalah kita terjebak pada bentuk yang seharusnya ditampilkan bukan emosi yang seharusnya muncul. Kemudian muncul pendapat bagaimana seandainya jika dihadapkan oleh masalah seperti itu kita memerankan tokoh dalam naskah sebagai diri kita sendiri, tetapi tergantung usia yang diperankan itu akan lebih muncul emosi sampai ke sukmanya.
Seorang kawan lama tadi menanggapi pendapat tersebut yaitu tinggal bagaimana bentuk penggarapan naskah akan digarap, apakah realis, surealis, absurd dan sebagainya. Kalau misalkan dibuat bentuk realis sangat tidak mungkin memakai pendapat awal tadi, sebab ketika kita membedah karakter dalam naskah dari sisi 3 dimensi yaitu sisi psikologi, fisiologi dan sosiologi akan berbeda hasilnya. Artinya latar belakang tokoh dalam naskah akan berbeda dengan latar belakang kita, walaupun secara kebetulan ada yang sama tidak mungkin bisa sama persis dengan latar belakang diri kita sendiri. Contoh kasus, misalkan ada peran kakek tua berusia 70 tahun, saya memerankan dengan teknik pendapat pertama berarti saya berperan sebagai diri sendiri 50 tahun yang akan datang, sedangkan ketika saya memakai teknik pendapat yang kedua saya akan memerankan tokoh kakek tua yang benar-benar bukan diri saya sendiri, dari sisi psikologis, fisiologi sampai sosiologinya. Saya lebih tertarik dengan pendapat kedua, kenapa? sebab ketika proses menjadi kakek selama 50 tahun (dari usia saya sekarang) akan berbeda dengan kemungkinan latar belakang yang terjadi pada karakter tokoh dalam naskah. Dan pada penggarapan naskah realis yang menuntut semua adegan dan bentuk serealis mungkin kita pun tidak bisa mengubah karakter yang memang sudah ada dalam naskah.
Saya menganggap mungkin menggali tokoh karakter dalam naskah itu yang disebut salah satu art dalam seni peran. Sangat menarik sekali untuk terus digali, semoga berhasil, salam budaya.

Kamis, 29 Maret 2012

Flashback

Seringkali kita sebagai pelaku seni peran mangabaikan metode dasar keaktoran. Mungkin saat ini kita sudah menguasai betul metode-metode tersebut, sehingga dengan sangat lihai dan kelihatan mahir memainkan berbagai jenis karakter. Kadang seorang pelaku seni peran pun terlena dengan keadaan, merasa menguasai lalu   membiarkan keahlian tersimpan dalam "almari".
Ada beberapa contoh kasus, dan salah satunya adalah tentang meditasi. Terlena dengan keadaan, artinya kasus kali ini adalah intensitas proses (dalam hal penggarapan naskah) sangat lah menurun, malah sama sekali tidak ada proses. Ditambah berfikir bahwa latihan dasar hanya untuk kalau ada proses penggarapan naskah ternyata itu adalah pemikiran yang sangat celaka. Kali ini saya membuktikannya sendiri, saya memang manusia biasa kadang khilaf. Mungkin ini tahap pembelajaran yang saya jalani, masih mencari bentuk proses, tetapi saya beranggapan bahwa ini tidak boleh menjadi sebuah permakluman. Sangat ironis sekali bahwa satu tahun terakhir tidak ada pentas teater yang saya ikuti, kalau sempat proses memang ada, tetapi itu bisa dihitung jari intensitasnya. Saat ini saya memulai lagi proses penggarapan naskah. Merasa malu, bingung, canggung dan apapun lah perasaan yang merujuk ke emosi kebingungan beberapa waktu yang lalu ketika baru memulai tahap reading. Saya merasa kesulitan untuk masuk ke dunia naskah. Meditasi mengingat masa lalu (sesuai kondisi emosi adegan dan karakter) sebuah metode yang sangat dasar saya korek sesaat dan saya mulai masuk dalam dunia naskah. Celakanya adalah ketika dicut oleh sutradara, saya merasa mengambang, tidak bisa cepat mengembalikan siapa diri saya yang sebenarnya, gelisah hampir sama seperti orang kesurupan dan badan terasa kesemutan dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
Agak aneh memang, tetapi ini memang akibat pemikiran celaka tadi dan proses yang memang serba mendadak. Keep enjoy lah, sebuah teguran serta pembelajaran yang sangat berharga bagi saya dan mungkin bagi kita semua.
Hargai dan nikmati proses kuncinya.

Rabu, 28 Maret 2012

Menjadi "Diri Sendiri"

Ada beberapa pembahasan sebenarnya dalam 3 hari terakhir ini dengan beberapa kawan (sebenarnya mereka seorang guru bagiku, tetapi sekarang lebih senang disebut kawan) yaitu salah satunya tentang bagaimana seharusnya kita berperan/memainkan peran dalam penggarapan sebuah naskah.
Seorang kawan berpendapat misalkan dalam sebuah penggarapan naskah teater, yaitu dalam memainkan peran/tokoh tidak menghilangkan karakter asli seorang aktor/aktris, tetapi yang ditonjolkan adalah isu yang diangkat dalam naskah tersebut apakah tidak lebih enak dan enjoy bagi seorang aktor/aktris serta lebih enak ditonton bagi penonton tentunya. Sebab banyak kasus yang terjadi (bukan berarti semua) seorang aktor/aktris mampu menguasai tuntutan peran dalam naskah, tetapi itu hanya sekedar raga, sedangkan sukma dalam tokoh belum bisa dikuasai pemeran sehingga yang terjadi adalah kekuatan karakternya cenderung melemah karena terbagi antara konsen ke karakter (raga) tanpa diimbangi sukma dalam tokoh.
Saya pun mencoba bertanya, apakah nantinya tidak timbul opini dari berbagai kalangan kalau melakukan hal seperti itu?kita sebagai pelaku seni peran tidak bisa memposisikan diri sebagai karakter yang seharusnya ada dalam naskah, tetapi malah lebih berperan menjadi "diri sendiri" yang mengangkat isu dalam naskah.
Seorang kawan menjawab, dia mengambil saya sebagai contoh. Misal dalam sebuah naskah ada peran kakek tua berusia sekitar 80 tahun kalau ini diperankan menurut pendapat di atas tadi akan lebih keluar karakternya, artinya saya sekarang berusia sekitar 20 tahun, memang tidak mungkin karakter kakek tua 80 tahun saya perankan apa adanya dengan kondisi saya sekarang, tetapi yang dimaksut adalah bagaimana saya menjadi "diri saya sendiri" 60 tahun yang akan datang, akan lebih enak dan enjoy tanpa harus konsen raga dan sukma yang mungkin susah (susah bukan berarti tidak mungkin) untuk dicapai. Artinya unsur-unsur dasar keaktoran semacam observasi, pendalaman karakter, dan sebagainya tidak harus dihilangkan meskipun mencoba menjadi "diri sendiri". Sebab bagaimana pun juga yang namanya dasar itu harus tetap ada, bagaimana kita bisa berinjak kalau tidak tahu dimana dasarnya.
Kasus kali ini memang sangat dasar sekali dalam pembelajaran keaktoran, sebenarnya masih banyak sekali teori yang ada, dan semoga timbul banyak kasus lagi sehingga memacu kita untuk tetap memecah dan mencari solusi terbaiknya.
Lets Try ! mari kita mencoba .